Nagari Limau Lunggo merupakan bagia dalam salah satu Nagari Koto Nan VI yang masih pecahan dari Kubung Tigo Baleh. Menurut Sejarah/cerita dari orang tua-tua dahulu pada mulanya nagari Limau Lunggo sebelum menjadi nagari merupakan sebuah pemukiman masyarakat yang terletak disebuah bukit.
Pemukiman tersebut baru merupakan sekelompok rumah/Korong yang terletak di lembah sebuah bukit yang pada saat itu dinamakan bukit Juyiang (tinggi) karena letak bukit tersebut di kaki Gunung Talang, sehingga bukit tersebut terlihat sangat tinggi dan menutupi Gunung dan masyarakat menyebutnya dengan Bukit Manjuyiang.
Pada masa itu kehidupan masyarakat bergantung pada pertanian, maka dibangunlah jalan untuk keladang/sawah bahkan jalan menuju bukit juyiang tersebut. Masyarakat pada waktu itu membangun jalan dengan menyusun batu-batu yang ada, sehingga jalan tersebut membentuk tangga.
Sampai saat ini jalan itu juga masih dapat ditemui dan namanya dijadikan sebagai nama nagari yaitu Limau Lunggo Bajanjang Batu. Jadi menurut sejarah, nagari Limau Lunggo dan Batu bajanjang dulunya adalah satu nagari. Kemudian dipecah menjadi 2. Tatanan kehidupan masyarakat Limau Lunggo sangat berpegang pada Budaya Alam Minangkabau (Budaya Alam Kubuang Tigo Baleh) yaitu tradisi Bagalanggang.
Asal mula nama nagari yaitu Limau = Mandi, Runggo = badan artinya Memandikan Badan. Karena banyaknya orang dari nagari luar pada masa dahulu datang ke nagari Limau Lunggo untuk ‘Mengisi badan’ dalam artian menuntut ilmu sehingga orang yang datang menyampaikan niatnya dengan istilah Limau Lah Runggo
Limau Lunggo terkenal dengan orang-orang yang punya ilmu bela diri dan agama. Ada satu legenda di nagari Limau Lunggo yaitu Tonggak Tuo. Konon kabarnya tonggak tuo (tiang utama mesjid) ditegakkan oleh satu orang yang bernama Muhamad Qushin biasa di panggil Gaek Surau. Dari cerita-cerita orang tua dahulu, tonggak tersebut didirikan oleh satu orang setelah seluruh masyarakat tidak sanggup menaikkannya secara bersama-sama, namun gaek surau dapat menegakkan tonggak tersebut sendiri dan mengeluarkan mata air sewaktu tonggak itu ditegakkan. Mata Air itu kini dikenal dengan Aia Macu, konon air ini tidak pernah kering dan sudah dibuktkan pada tahun 1926 yang pada waktu itu terjadi gempa besar yang mengakibatkan sumber mata air di nagari kering. Namun aia macu ini tidak pernah kering, sehingga masyarakat datang berduyun-duyun ke Aia Macu untuk mengambil air ataupun untuk diminum. Sampai saat ini, Aia Macu diyakini masyarakat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bahkan Aia Macu banyak di ambil oleh wisatawan local maupun orang-orang dari provinsi lain untuk dijadikan sebagai obat penyakitnya.